Jakarta, Astacita — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah insiden serius terjadi di perairan strategis Selat Hormuz. Pasukan militer Iran dilaporkan menembaki tiga kapal komersial yang melintas, dengan dua di antaranya kemudian berhasil dikuasai oleh otoritas setempat.
Berdasarkan laporan terbaru, aksi tersebut melibatkan unit angkatan laut dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Mereka melepaskan tembakan ke arah kapal-kapal yang tengah melintas di jalur pelayaran internasional tersebut.
Peristiwa terjadi pada 22 April 2026 saat tiga kapal kontainer berusaha keluar dari Teluk menuju perairan terbuka. Kapal-kapal tersebut diketahui bernama MSC Francesca, Epaminondas, dan satu kapal lain yang tidak mengalami penahanan.
- Dua kapal, yakni MSC Francesca dan Epaminondas, dihentikan lalu dikuasai oleh pihak Iran.
- Satu kapal lainnya berhasil melanjutkan perjalanan setelah sempat menjadi sasaran tembakan.
- Salah satu kapal mengalami kerusakan akibat tembakan dan ledakan yang dilaporkan berasal dari kapal patroli Iran.
Selain itu, laporan terpisah menyebutkan bahwa serangan dilakukan tanpa peringatan komunikasi radio sebelumnya, meski pihak kapal mengklaim telah memiliki izin melintas.
Iran mengklaim tindakan tersebut dilakukan karena kapal-kapal itu dianggap melanggar aturan pelayaran, termasuk dugaan mematikan sistem navigasi atau tidak memiliki izin resmi.
Namun, langkah ini memicu kecaman dari berbagai pihak internasional. Sejumlah negara menilai tindakan tersebut sebagai ancaman serius terhadap keamanan jalur pelayaran global, bahkan disebut sebagai bentuk pembajakan laut modern.
Di sisi lain, Amerika Serikat menyatakan bahwa insiden tersebut tidak melanggar kesepakatan gencatan senjata karena kapal yang terlibat bukan milik AS maupun sekutunya.
chokepoint perdagangan minyak dunia seperti Selat Hormuz memiliki peran vital karena dilalui sekitar 20% distribusi minyak dan gas dunia. Gangguan di wilayah ini langsung berdampak pada pasar energi global.
Akibat insiden ini:
- Harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan hingga menembus angka psikologis.
- Aktivitas pelayaran menurun drastis karena meningkatnya risiko keamanan.
- Kekhawatiran akan krisis energi global kembali mencuat.
Insiden penembakan dan penyitaan kapal di Selat Hormuz menunjukkan bahwa situasi geopolitik di kawasan tersebut masih sangat rentan. Meski jalur ini secara teknis tetap terbuka, tingkat keamanan yang tidak stabil membuat aktivitas pelayaran internasional berada dalam ancaman serius.