Astacita, Jakarta mengalihkan fokus bisnis mereka ke sektor kecerdasan buatan (AI), seiring meningkatnya peluang keuntungan dari teknologi tersebut.
Berdasarkan laporan dari IDN Financials, tren ini didorong oleh kebutuhan komputasi tinggi dalam pengembangan AI yang dinilai lebih stabil dan menjanjikan dibandingkan aktivitas mining kripto yang sangat bergantung pada volatilitas harga pasar.
Perusahaan tambang kripto pada dasarnya telah memiliki infrastruktur yang relevan, seperti pusat data (data center) dan perangkat keras berdaya komputasi tinggi. Infrastruktur ini dapat dengan relatif mudah dialihkan untuk mendukung kebutuhan AI, termasuk pemrosesan data dan pelatihan model.
Bahkan, dalam laporan tersebut disebutkan bahwa kontribusi pendapatan dari sektor AI diperkirakan dapat mencapai hingga 70% dari total pendapatan perusahaan pada 2026. Hal ini menunjukkan pergeseran strategi yang cukup signifikan di industri.
Selain potensi pendapatan yang lebih besar, faktor efisiensi energi dan tekanan biaya operasional dalam aktivitas mining juga menjadi alasan utama. Penurunan margin akibat kompetisi dan fluktuasi harga kripto mendorong perusahaan untuk mencari sumber pendapatan alternatif.
Meski demikian, aktivitas penambangan Bitcoin tidak sepenuhnya ditinggalkan. Banyak perusahaan memilih untuk menjalankan model bisnis hybrid, yakni tetap melakukan mining sambil mengembangkan lini bisnis AI secara paralel.
Analis melihat langkah ini sebagai bentuk adaptasi terhadap dinamika industri teknologi global, di mana AI kini menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat dan permintaan yang terus meningkat.