Astacita, Jakarta– Pemerintah Indonesia melalui Kementerian BUMN dan Kementerian Perindustrian tengah mematangkan langkah besar untuk merevitalisasi industri tekstil nasional. Proyek ambisius ini ditandai dengan rencana pembentukan Holding BUMN Tekstil yang akan mendapatkan suntikan dana segar sebesar Rp94 triliun.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata pemerintah dalam membangkitkan kembali sektor padat karya yang sempat tertekan oleh serbuan produk impor dalam beberapa tahun terakhir.
Berbeda dengan pola konvensional, dana jumbo tersebut dialokasikan secara khusus untuk modernisasi mesin manufaktur di seluruh unit bisnis BUMN Tekstil. Fokus utamanya adalah pengadopsian teknologi Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi dalam proses produksi.
Teknologi AI ini akan digunakan untuk optimalisasi pola potong, prediksi tren pasar secara real-time, hingga pengendalian kualitas otomatis. Targetnya tidak main-main: pemerintah membidik peningkatan kapasitas ekspor hingga 10 kali lipat dalam lima tahun ke depan.
"Kita tidak hanya sekadar mengganti mesin lama, tapi kita menyuntikkan 'otak' baru ke dalam industri ini. Dengan AI, efisiensi produksi kita akan mampu bersaing di pasar global, sekaligus menjadi benteng pertahanan dari gempuran produk impor murah," ujar perwakilan Kemenperin dalam diskusi kebijakan industri, Kamis (19/3/2026).
Pembentukan holding ini juga bertujuan untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di tengah ketidakpastian tarif perdagangan global. Dengan rantai pasok yang terintegrasi dari hulu ke hilir di bawah satu payung BUMN, biaya logistik dan produksi diharapkan dapat ditekan serendah mungkin.
Selain aspek teknologi, proyek ini diprediksi akan menyerap ratusan ribu tenaga kerja baru, memberikan napas segar bagi kesejahteraan buruh tekstil di sentra-sentra industri seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah.