Astacita.com, – Pasar aset kripto di Indonesia dan global kembali dilanda gejolak signifikan pada pertengahan Februari 2026. Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, mengalami penurunan tajam yang mengejutkan, menyentuh level psikologis US$66.391 atau setara dengan sekitar Rp1,11 miliar. Penurunan drastis ini menandai kemunduran lebih dari 26% dari posisi puncaknya pada Januari 2026.
Fenomena ini, yang oleh banyak analis dijuluki sebagai "Flash Crash," memicu kekhawatiran baru di kalangan investor. Berbagai spekulasi bermunculan mengenai penyebab di balik anjloknya harga. Salah satu teori utama yang mengemuka adalah minimnya permintaan organik baru di pasar, terutama setelah periode adopsi institusional yang masif dan kini mulai menunjukkan tanda-tanda jenuh.
"Volume perdagangan menunjukkan adanya aksi jual besar-besaran yang tidak diimbangi oleh pembelian yang cukup kuat. Ini mengindikasikan bahwa investor jangka pendek mungkin merealisasikan keuntungan, sementara investor institusional besar cenderung menahan diri," jelas David Susanto, seorang analis pasar kripto independen. Ia juga menambahkan bahwa sentimen makroekonomi global yang kurang kondusif, termasuk potensi kenaikan suku bunga bank sentral, turut berkontribusi pada kehati-hatian investor.
Penurunan ini juga menghidupkan kembali perdebatan di komunitas kripto mengenai apakah Bitcoin sedang memasuki fase "puncak permanen" atau hanya koreksi pasar yang sehat. Beberapa pihak berargumen bahwa adopsi massal sudah mencapai titik jenuh, dan akan sulit bagi Bitcoin untuk mencapai level tertinggi baru dalam waktu dekat.
Namun, di sisi lain, banyak pendukung kripto melihat ini sebagai peluang emas untuk membeli aset dengan harga diskon.
"Setiap koreksi besar selalu menjadi kesempatan untuk akumulasi bagi investor jangka panjang. Fondasi teknologi Bitcoin tidak berubah, dan potensinya sebagai penyimpan nilai jangka panjang tetap kuat," ujar Sarah Wijaya, CEO sebuah platform pertukaran kripto lokal.
Regulasi yang semakin ketat di berbagai negara, meskipun bertujuan untuk melindungi investor, juga disebut-sebut memberikan tekanan pada pasar. Ketidakpastian mengenai kebijakan baru terkait pajak kripto dan pengawasan bursa dapat membuat investor enggan untuk berinvestasi lebih lanjut. Saat ini, pasar kripto global sedang menanti sinyal-sinyal pemulihan, dengan mata tertuju pada data ekonomi global dan perkembangan regulasi. Volatilitas diprediksi akan tetap tinggi dalam beberapa minggu ke depan, menguji ketahanan investor dan fundamental aset kripto itu sendiri.